Berjuang melaksanakan Sunnah

Posted: 28 Januari 2011 in serambi
Tag:, ,

Melaksanakan tawaf Ifadhah dan Jumrah Aqabah pada waktu yang telah disunnahkan oleh Rasululloh SAW yaitu pada tanggal 10 Dzulhidzah ba’da Dhuha, membutuhkan kemauan yang kuat, kondisi phisik yang fit dan siap menjalaninya dengan penuh keikhlasan.

Mengapa hal ini sepertinya berat, karena sebagian besar jamaah haji melaksanakan hal yang sama, di tempat yang sama serta pada saat yang sama pula.

Ketika rombongan kami akan melaksanakan Jumrah Aqobah, terdengar announcemen yang memperingatkan agar jamaah haji Indonesia tidak melaksanakan lempar Jumrah pada saat itu. Dan menyarankan pada waktu yang lain yaitu mulai jam dua siang ke atas. Kami pun jadi bingung apakah tetap terus atau kembali ke tenda.

Namun berbekal tekad melaksanakan sunnah yang kuat, dipimpin oleh Ketua Rombongan dan dua orang Ustadz sebagai pembimbing rombongan, kami tetap meneruskan langkah melewati terowongan Mina dan berjalan sekitar 2 km menuju jamarat (tempat melempar jumrah).

Saat mendekati jamarat, kondisi jalan sudah penuh sesak dengan sebagian besar jamaah non Indonesia yang memiliki perawakan rata-rata lebih tinggi dan besar. Apalagi pada saat masuk ke area pelemparan jumrah, rombongan kami langsung tercerai berai.

Saya dan istri yang masih tetap bersama, berusaha masuk lebih dekat dengan jamarat. Karena terlalu padat, kami pun hanya bisa melempar dari jarak yang bisa kami capai. Namun Alhamdulillah, tujuh batu yang kami lemparkan mendarat telak ke dinding batu jamarat.

Setelah selesai melempar Jumrah, perjalanan pun dilanjutkan. Rombongan yang tadinya tercerai berai, kembali bertemu dan sepakat untuk melanjutkan dengan tawaf Ifadah di Masjidil Haram. Hanya 4 orang jamaah dari rombongan yang tertinggal di belakang. Setelah ditelpon mereka tidak akan melaksanakan tawaf ifadah pada hari itu dan akan kembali ke tenda di Mina.

Kami pun berjalan kaki menuju Masjidil Haram dengan waktu kurang lebih satu jam dengan jarak sekitar 5 km. Kondisi di Masjidil Haram sudah dipenuhi jamaah dan untuk mengantisipasi tercerai berainya rombongan seperti sebelumnya, kami pun sepakat selepas melaksanakan tawaf akan berkumpul kembali di lokasi yang telah ditentukan.

(bersambung)

Komentar
  1. Agus Siswoyo mengatakan:

    waduh, yang wajib aja masih sering keteteran kang. Hehehe…

  2. Erdien mengatakan:

    Nyeueurkeun amalan sunnah memang tiasa janten panyampurna nu wajib, tur tiasa janten motivasi pikeun langkung ngaronjatkeun amalan wajib. Barakallahu fikum!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s