Tanajul

Posted: 23 Januari 2011 in serambi
Tag:,

Salah satu ibadah sunnah dalam prosesi ibadah haji adalah melaksanakan mabit di Mina sebelum melaksanakan wukuf di Arafah. Jamaah haji dari Indonesia pada umumnya tidak melaksanakan sunnah ini, karena jamaah haji Indonesia langsung diberangkatkan dari Mekah ke Arafah pada tanggal 8 Dzulhizah.

Mungkin penyebabnya adalah kekhawatiran akan membludaknya jamaah haji di Mina dan kemacetan yang terjadi antara Mina dan Arafah. Namun dengan program seperti ini mengurangi peluang jamaah haji Indonesia untuk mendapatkan keafdolan ibadah haji. Bagi jamaah yang ingin tetap melaksanakan mabit di Mina, maka jamaah harus memisahkan diri dari rombongan besar. Istilah pemisahan dari rombongan ini dinamakan dengan tanajul.

Pelaksanaan tanajul tentu saja harus dilaksanakan secara mandiri dalam hal transportasi atau perjalanan antara Mekah ke Mina dan Mina ke Arafah. Muhasasah sebagai pananggungjawab pondokan dan transportasi antara Mekah ke Arafah tidak akan memberikan fasilitas kendaraan. Oleh karena itu, jamaah haji yang melaksanakan tanajul harus mengeluarkan biaya untuk sewa bis atau kendaraan lain. Kalaupun tidak mendapat kendaraan yang terjangkau maka jemaah haji bisa melakukan jalan kaki dengan jarak Mekah ke Mina sejauh +/- 7 km dan Mina ke Arafah sejauh +/- 14 km.

Saya dan istri sejak di tanah air memang sudah berniat melaksanakan mabit di Mina sebelum ke Arafah. Alhamdulillah, di dalam rombongan kami ada beberapa jamaah yang ingin melaksanakan tanajul ini. Setelah melakukan musyawarah, maka diputuskan rombongan kami yang terdiri dari 31 orang jamaah sepakat untuk melaksanakan tanajul. Adapun biaya trasportasi ditanggung bersama. Setelah mencari informasi dari sana sini diputuskan biaya per jamaah untuk tanajul ini sebesar SR 280.

Pada tanggal 8 Dzulhidzah, sesuai dengan rencana, kami dijemput bis besar yang akan membawa kami ke Mina. Perjalanan berlangsung lancar dan tidak berapa lama kami pun sampai di Mina. Kondisi Mina saat itu mulai ramai, namun untuk perkemahan Indonesia masih terlihat kosong karena sebagian besar jamaah haji Indonesia berada di Arafah. Kami pun menempati tenda yang telah dirancang secara permanen, tahan api dan dilengkapi AC yang cukup dingin.

Selama mabit di Mina tidak ada peribadatan khusus yang kami lakukan selain sholat, membaca Al-Qur’an dan berdzikir. Setelah bermalam di Mina, keesokan harinya ba’da Sholat subuh, kami berkemas dan menunggu bis yang akan menjemput. Selama hampir tiga jam menunggu, ternyata bis yang dinantikan belum datang juga. Kami pun gelisah karena khawatir bis tidak akan datang sama sekali.

Melihat kondisi ini, ketua rombongan pun memutuskan untuk bergerak sambil menunggu bis. Kami pun berjalan di tengah teriknya matahari, sambil terus berdoa agar kami diberikan keselamatan dan kelancaran dalam melaksanakan ibadah haji ini. Setelah agak jauh kami berjalan, saat melewati batas Mina akhirnya bis yang ditunggu-tunggu itupun datang. Betapa leganya perasaan seluruh rombongan kami, mengingat jauh dan lamanya perjalanan yang akan ditempuh jika kami meneruskannya dengan berjalan kaki.

Ternyata ujian kesabaran kami tidak selesai disitu saja, setelah beberapa saat perjalanan bis berjalan lancar, kami terjebak di dalam kemacetan luar biasa. Bus dan kendaraan kecil yang disesaki jamaah dari berbagai negara memenuhi jalanan dan hampir tidak ada ruang untuk bergerak sedikit pun. Setelah hampir dua jam terjebak di kemacetan, perlahan antrian kendaraan mulai bergerak. Kami pun bernafas lega kembali, apalagi setelah melewati pintu pemeriksaan masuk ke Arafah. Ternyata bottle neck kemacetan adalah pos pemeriksaan jamaah haji yang memang lebih ketat terutama untuk mencegah masuknya jamaah yang tidak memiliki surat perjalanan resmi.

Akhirnya kami sampai ke Arafah jam satu siang, masih belum terlambat untuk melakukan wukuf di Arafah. Kami hanya bisa bersyukur kepada Allah SWT, perjuangan dan kesabaran kami membawa hasil. Semoga Allah SWT menerima haji kami ini dan menggolongkan kami menjadi haji yang Makbul dan Mabrur. Amin

Komentar
  1. Vidzas Erdien mengatakan:

    Barakallahu fikum!
    Innallaha ma’ash-shabirin🙂

  2. Fadly Muin mengatakan:

    wah.. selamat mas… semoga berkah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s