Pengalaman kuliner di Mekah (bagian 1)

Posted: 16 Januari 2011 in serambi
Tag:,

Kota Mekah merupakan kota besar dengan penduduk yang beraneka ragam budaya dan suku bangsa. Keanekaragaman penduduk tercermin dari jenis makanan yang dijual di berbagai sudut kota Mekah terutama pada saat musim haji.

Bagi sebagian besar jamaah haji Indonesia, mungkin tidak banyak yang mencoba berbagai jenis makanan ini. Karena cenderung lebih memilih menu yang cocok dengan lidah orang Indonesia.

Baso, nasi goreng dan ayam goreng menjadi makanan favorit jamaah haji Indonesia. Tidak heran di setiap restoran yang menyajikan menu ini, selalu berjibun orang Indonesia yang antri makanan ini.


Saya mencoba beberapa jenis makanan seperti nasi goreng ala arab. Dengan mengeluarkan uang sebesar SR 10 (atau setara dengan Rp. 25 ribu), kita bisa memperoleh satu paket besar berisi nasi goreng dan 3 potong ayam. Melihat ukuran paket ini, mau tidak mau saya mengajak istri saya untuk menghabiskannya berdua.

Kemudian di sudut jalan Misfalah, kami mendapatkan restoran khas Turki. Walaupun di dalamnya terdapat menu-menu khas Indonesia seperti Baso, Rendang dsb tetapi justru kami mencari makanan yang khas Turki.

Kami memilih makanan sejenis ayam puyuh panggang dengan roti dan kentang. Dengan mengeluarkan SR 20, kami cukup puas karena ternyata rasanya sangat enak dan cukup kenyang karena porsinya yang besar untuk ukuran orang Indonesia. Satu paket terdiri dari 3 ekor ayam puyuh, sepiring kentang dan roti ukuran besar.

Di lain kesempatan, kami juga mencoba makanan khas Turki lainnya seperti Kebab dan Sawarma. Harga kebab isi daging berkisar SR 7, sedangkan sawarma harganya lebih murah yaitu hanya SR 2. Para penjual makanan jenis ini mudah ditemui di pertokoan sekitar Masjidil Haram. Bagi yang tidak doyan daging dan sedang diet, sawarma sangat cocok karena berisi sayuran, rasanya cukup enak dan harganya yang murah. Sawarma

Ada lagi makanan yang mungkin jarang ditemukan di Indonesia yaitu daging Unta. Pertama kali saya mencicipi daging unta ini, pada saat di Mina. Waktu itu kami mencari makanan dan ada kios yang ramai dikerumuni pembeli.

Dari cara memasak dan aromanya, kami pun tertarik untuk membeli. Dengan harga SR5, kami mendapatkan 1 porsi roti isi daging. Kami pun langsung menyantapnya. Hmm, rasanya agak lain, baunya mirip daging domba tapi tidak terlalu kuat. Setelah saya tanyakan ke yang lain, ternyata daging yang saya makan adalah daging Unta.

(bersambung)

Komentar
  1. Erdien mengatakan:

    Hehehe… janten kabita ayi Kang, asa kumaha nya?😀

  2. uun suryati mengatakan:

    Hatur nuhun informasi perjalanan hajina, Insya Allah tahun 2011 saya berangkat. Bade nyobian wisata kulinerna oge…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s