Melatih Sensitivitas Seorang Manusia

Posted: 25 Juli 2010 in Manajemen
Tag:, ,

Pernahkah Anda dihadapkan suatu kondisi atau situasi yang membingungkan? Sebuah situasi yang membuat Anda tidak dapat melakukan apapun. Tidak bisa bicara dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Kalau Anda pernah berarti sama persis dengan apa yang saya alami minggu lalu. Waktu itu saya mengikuti suatu pelatihan, dimana kami sebanyak 16 orang dikelompokan dalam sebuah kelas. Instruktur mengatakan di awal bahwa dalam kelas nanti tidak ada pelajaran sama sekali, tanpa struktur, tanpa ada komando semuanya diserahkan kepada masing-masing peserta.

Setelah instruktur menyelesaikan instruksinya, maka permainan pun dimulai. Kami duduk melingkar, tidak ada yang bersuara, saling memandang, tidak tahu harus berbuat apa-apa. Hampir lima belas menit situasi ini berlangsung, sampai ada peserta yang tidak tahan untuk bicara. Kawan saya itu mencoba untuk mencairkan suasana yang hening dan kaku. Terlihat ada sebersit kelegaan diantara peserta, ketersiksaan selama lima belas menit dalam hening dan beku serasa sirna.

Beberapa saat kemudian, terjadi dialog diantara peserta baik itu feedback maupun disclosure. Feedback dalam sesi ini didefinisikan sebagai ungkapan perasaan yang ditujukan ke seseorang, baik itu rasa kesal, kecewa, sakit hati maupun kritik. Sedangkan disclosure lebih mirip ke curhat yang ditujukan ke semua orang.

Akhirnya, situasi pun berubah. Kami terlibat dalam percakapan satu sama lain. Beberapa kawan melakukan feedback terhadap kawan lainnya yang notabene merupakan atasan atau bawahan atau rekan sekerja di kantor. Uneg-uneg yang tersimpan selama ini keluar. Dalam sesi ini, semua peserta bebas mencurahkan isi hati tanpa rasa takut dimarahi, diomeli atau terkena sanksi walau ke atasan sekalipun. Terkadang instruktur mendapat kritik dan terpancing emosi juga. Dalam atmosphere seperti ini, seseorang yang biasanya tertutup pun bisa bersuara bahkan mampu mengkritik yang cukup pedas.

Setelah tiga jam acara ini pun diakhiri. Saya mendapatkan sesuatu dari sesi pelatihan ini. Saya sadar bahwa apa yang saya rasakan saat itu belum pernah saya alami sebelumnya. Sebuah sensitivitas perasaaan yang sering hilang dalam sekat-sekat status manusia. Kesadaran yang memaknai hati, menjelaskan arti kebaikan dan keburukan. Kesadaran akan hakekat kita sebagai seorang manusia sebagai mahluk yang punya pikiran dan perasaan.

Komentar
  1. agustantyono mengatakan:

    subhaanallah, nice artikel mas aas, pengalaman yang asyik banget sepertinya
    Salam kenal mas

  2. Fadly Muin mengatakan:

    situasi itu seperti dalam situasi berkawan yah mas. saya jadi teringat saat kuliah dulu. begitu banyak situasi yang mendukung untuk saling curhat, mengkritik atau memuji. semua itu dilakukan dengan spontanitas.

    sekarang kita sudah terlingkari oleh banyak rambu2..

  3. Erdien | Sundagasik mengatakan:

    Muhun, tangtosa kana bingungna aya dina situasi sapertos kitu Kang.
    Tah abdi oge sok kadang sesah dina muka cariosan pikeun ngahegarkeun suasana teh. Kantenan upamai sareng jalmi anu teu acan pada-pada wanoh. Sesah pisan. Kedah sering dilatih rupina Sensitivitas. Mung carana yeuh nu rada sesah oge😀

    • Aas Maesyanurdin mengatakan:

      muhun kang, carana : cobi dina interaksi jeung babaturan atawa nu sanes….ragapan cariosan batur teh sanes ngan ukur ku utek tapi nganggo hate…sabar sareng peka intina mah

  4. Suarakelana mengatakan:

    Emang tema sesi pelatihan itu apa Kang ? Curhat ?

    Betul memang, beragam topeng yg kita kenakan telah melunturkan sensitifitas rasa. Bak menggunakan banyak pelindung (helm, jaket, sarung tangan, kaos kaki, dsb). Sesekali memang perlu “bugil”.

    • Aas Maesyanurdin mengatakan:

      temanya sih biasa motivasi, tapi metodanya agak lain

      setuju pa Heri, dalam keseharian orang sering bersembunyi di balik topeng dan baju kebesarannya. Dalam sesi pelatihan ini, topeng dan baju kebesarannya ditinggalkan walaupun tidak bugil2 amat…hehehe.

      Beruntunglah orang yang terbiasa berinteraksi tanpa topeng dan baju kebesaran, …karena dgnnya hidup kita menjadi lebih ringan.

  5. Agus Siswoyo mengatakan:

    Saya tertarik mengusung konsep tersebut ke tempat kerja saya. Tapi pertanyaannya, mau nggak ya pimpinan saya menyetujuinya?

    Karena selama ini saya merasa berjuang sendirian dalam bekerja. Sebagai seorang akunting yg handle keuangan usaha, hampir 95 persen keputusan saya ambil sendiri tanpa melibatkan big boss. Saya pun seolah sudah mati rasa untuk menyapa boss saya. Hingga terkadang saya berpikiran: yang punya perusahaan ini siapa sih? Kok aku dibiarin berpikir sendirian.

    Nah lho, kok saya jadi curhat ya. Hahaha…

    • Aas Maesyanurdin mengatakan:

      coba rekomendasikan pelatihan seperti ini (personal mastery achievement) ke bagian HR, siapa tahu didukung.
      btw, yg butuh komunikasi 2 arah dilandasi trust bukan hanya kita saja sesama pegawai bahkan pemilik perusahaan juga, s….. soalnya terasa juga sama saya yg punya usaha dan pegawai, betapa susahnya membangun tim yang solid seperti ini.

  6. Agus Siswoyo mengatakan:

    Saya suka pemikiran mas Aas. Barusan saya jadi subscriber blog ini. Kalau mas Aas bisa posting lebih rutin lagi, tentu akan lebih baik lagi.

    • Aas Maesyanurdin mengatakan:

      terimakasih Mas Agus, semoga dgn bertambahnya interaksi diantara kita dan blogger umumnya, banyak memperkaya wawasan dan pemikiran kita.
      Saran mas Agus akan dicoba deh semaksimal mungkin…hehehe

  7. Naufal agam mengatakan:

    Wah pengalaman yang amat menarik mas, jadi ingin mencoba.

    • Aas Maesyanurdin mengatakan:

      boleh coba mas, kalau formatnya seperti pelatihan berkelompok seperti saya sebaiknya pakai konsultan yang kompeten krn kalau tdk, biasanya dalam praktek akan muncul bias dan kehilangan tujuan yang akan dicapai

  8. Delia mengatakan:

    Pengalaman yang sangat bagus ya pak..
    saya jadi pengen ikutan ,, hehhehe…

    seperti kata pak Fadly…

    rambu2 itu lah membuat sensitivitas kita berkurang…. tapi biasanya lia membangkitkan beberapa hal dengan cara meditasi….🙂

    Tulisan yang keren

    • Aas Maesyanurdin mengatakan:

      boleh mbak…intinya bagaimana berkomunikasi tanpa sekat serta lebih menghargai eksistensi diri kita dan orang lain.

      metodanya mungkin beragam ya mbak, termasuk meditasi seperti mba Lia. Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s