Berbagai macam metoda telah diterapkan dalam manajamen untuk meningkatkan performansi perusahaan atau unit bisnis. Tujuan metoda-metoda tersebut ujung-ujungnya adalah bagaimana meningkatkan kinerja atau produktivitas para pegawai.
Seorang manager mempunyai peranan dalam membina dan mengembangkan kemampuan para stafnya. Untuk membina dan mengembangkan stafnya ini, manager harus jeli menerapkan teknik-teknik komunikasi.
Ada empat teknik komunikasi yang digunakan sesuai dengan karakteristik stafnya yaitu diantaranya :
a. Directing
b. Partisipasi
c. Konsultasi
d. Delegasi
Sebelum membahas teknik-teknik komunikasi lebih jauh, ada baiknya kita lihat karakteristik staf terlebih dahulu. Hal ini dikenal dengan nama Readiness Level yang terdiri dari empat level yaitu :
Level 1 : Kemampuan Rendah, Kemauan Rendah
Level 2 : Kemampuan Rendah, Kemauan Tinggi
Level 3 : Kemampuan Tinggi, Kemauan Rendah
Level 4 : Kemampuan Tinggi, Kemauan Tinggi
Jika staf berada di level 1 maka langkah yang harus dilakukan adalah dengan cara Directing atau perintah yaitu menugaskan staf untuk melakukan suatu pekerjaan secara langsung dan tegas.
Jika staf berada di level 2 maka langkah yang dilakukan adalah dengan cara Partisipasi atau terlibat dalam pekerjaan yang dilakukan oleh staf. Hal ini bukan berarti mengambil alih pekerjaan staf namun bersifat melatih staf secara langsung untuk meningkatkan kemampuannya dalam bekerja.
Jika staf berada di level 3 maka langkah yang harus dilakukan adalah dengan cara Konsultasi atau melakukan komunikasi dua arah untuk menjembatani dan menemukan solusi dari permasalahan non teknis yang dihadapi oleh staf.
Sedangkan jika staf berada di level 4 maka langkah yang harus dilakukan oleh seorang atasan adalah dengan cara Delegasi atau memberikan kepercayaan kepada staf untuk melakukan pekerjaan yang berada di level atasnya agar staf tertantang dan bisa meningkatkan lagi kemampuan dan pengalaman yang dimiliki.
Beberapa teknik komunikasi yang telah dijelaskan di atas, harus secara jeli dan kontinyu dijalankan oleh seorang Manager atau Supervisor agar kinerja unit yang dikelola semakin meningkat dan sesuai dengan target yang diharapkan oleh Perusahaan.
Pemahaman perilaku dan kemampuan staf menjadi sangat penting. Disinilah atasan harus melihat para stafnya dari berbagai aspek baik yang terlihat secara langsung maupun tidak langsung. Komunikasi yang dijalin tidak saja secara formal tetapi juga secara informal agar informasi yang tergali akan lebih banyak dan akurat.

Berada di level 4 pun menjadi tantangan tersendiri. Kalau nggak bisa menjaga kepercayaan perusahaan bisa mencelakakan diri. Saya pernah mengalami hal ini ketika lima tahun memimpin anak-anak produksi dan harus selalu meng-update SOP perusahaan.
Bebannya beraaaaats. Dari dimusuhi kawan-kawan seangkatan, diteror, dimaki-maki mitra kerja tanpa tahu kesalahan dan lain-lain. Tapi itu menjadi konsekuensi dari sebuah tanggungjawab. Kalau mau naik kelas ujiannya ya tambah berat.
Wah pengalaman mas Agus cukup heboh juga, sampai banyak teror segala. Tapi sekarang sdh baik2 kan..hehehe
Sekarang saat beralih jadi fulltime blogger bukannya tidak ada teror. Peluang kejahatan lewat internet bahkan lebih besar. Namun saya menyikapi secara santai. Saya nggak pernah foto telanjang dan bikin video seronok, jadi apa yang mau ditakutkan. Hahaha…
Hehehe…. komentar pertama tadi lupa sign out wordpress dot com jadinya ganti profil.
Siiip, nuhun pisan Kang elmu panemuna. Kaleresan ayi nuju peryogi pisan perkawis hal ieu
Wilujeng kang Erdien, mudah2an sing manfaat
mantap nih ilmunya. thanks ya pak. semakin baik komunikasi dalam satu team maka outputnya pasti bagus dan mencapai target kinerja
ok, tks atas kunjungannya