Perjuangan Pahit Seorang Pengusaha

Posted: 18 Januari 2011 in Motivasi
Tag:,

Malam ini, sebagai selingan saya mencoba menulis artikel dengan tema di luar pengalaman haji. Kebetulan minggu lalu saya diingatkan oleh seorang kawan, akan perjuangan seorang Wirausahawan. Kawan semasa SMA yang telah sekian lama berkecimpung di dunia usaha, sebut saja Ujang. Kedatangan Ujang ke rumah saya memang sudah direncanakan sebelumnya melalui telepon dan SMS.

Maksud utamanya adalah ingin silaturahmi sehubungan dengan kepulangan saya dari Tanah Suci. Selain itu ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan saya terkait dengan penawaran di bidang properti yang sedang ia garap. Namun dari penawaran yang Ujang ajukan, pola kerjasamanya kelihatan tidak cocok dengan konsep yang saya dan teman-teman kembangkan. Kami sedang belajar dan ingin mencoba menjadi pihak developer sedangkan Ujang menawarkan kepada saya sebuah investasi properti.

Dari pembicaraan seputar properti, Ujang pun menceritakan perjalanannya sebagai seorang pengusaha. Kondisi saat ini Ujang sedang membangun kembali roda bisnisnya yang sempat beberapa kali hancur diguncang krisis.

Awal karir Ujang dimulai sebagai seorang pengusaha sepatu buatan lokal. Produknya sempat sukses di pasar kerjasama dengan salah satu retail terbesar di era 90-an. Omzet dari penjualan sepatu saat itu pernah mencapai miliaran rupiah. Angka yang relatif cukup besar bagi seorang pengusaha pemula seperti Ujang.

Namun masa keemasan Ujang tidak berlangsung lama, pada tahun 1998, terjadilah krisis Moneter yang melibas para pebisnis tanah air dari kelas kakap sampai kelas teri. Retail tempat produknya dijual berganti kepemilikan sehingga merubah sistem kerjasama dari margin 20% menjadi 40% untuk pemilik Retail. Otomatis dengan pola baru tersebut harga jual produk Ujang menjadi kalah bersaing dan jeblok di pasar. Ujang pun mengalami kerugian yang cukup besar yang mengakibatkan usahanya di bidang Sepatu gulung tikar.

Ujang pun mulai dari bawah lagi, dan menggarap bisnis Wartel. Bisnis yang ia garap bersama kakaknya ini awalnya bagus, bahkan sempat mendirikan lima buah wartel sekaligus di kota Bogor. Keuntungan yang diharapkan dari bisnis Wartel ternyata tidak berlangsung lama. Seiring dengan bertambahnya wartel-wartel mandiri sebagai pesaing, juga makin menjamurnya pengguna handphone, maka bisnis wartel pun makin lama makin meredup. Hanya dua tahun, Ujang sanggup bertahan. Untuk keduakalinya, ia pun menutup usahanya dengan meninggalkan hutang serta permasalahan dengan berbagai pihak termasuk bank dan pengadilan.

Duakali jatuh, membuat Ujang terdampar di Jakarta. Dari seorang pengusaha, Ujang mengais rezeki menjadi pedagang kecil di Terminal Bus Kampung Rambutan Jakarta. Beberapa bulan terlantar, meninggalkan anak istri di kampung halaman, Ujang pun berkenalan dengan seseorang dari sebuah kelompok pengajian. Setelah beberapa bulan, Ia mendapat nasehat dari teman pengajiannya, agar ia pulang kampung berkumpul kembali dengan anak dan istrinya.

Setelah berkumpul kembali dengan anak dan istrinya, Ujang pun mulai merintis usaha di bidang properti. Ia diberikan kepercayaan menggarap tanah kerjasama dengan seorang rekannya yang lumayan cukup besar. Ujang pun membuat suatu konsep hunian skala menengah dengan model rumah yang cukup bagus. Walaupun sempat terjual beberapa rumah namun sekali lagi, permasalahan muncul terkait dengan rekan bisnisnya. Tidak lama setelah itu, proyek perumahan itu pun bubar dan diambil alih oleh investor baru. Ujang pun kembali jatuh untuk ketigakalinya.

Untuk menghidupi anak dan istrinya, serta menutup hutang-hutangnya yang cukup besar, Ujang terpaksa mencari uang kesana kemari. Apapun dilakukan termasuk meminta bantuan dari teman-teman lamanya. Sudah banyak teman-teman di SMP atau SMAnya yang dipinjami uang dengan janji akan dibayarkan kemudian setelah “proyek” yang sedang ia garap selesai. Walaupun sampai sekarang “Proyek” yang dimaksud belum pernah terdengar berhasil atau gagal dan pinjaman ke teman-temannya belum ada yang dikembalikan, saya tahu alasan “proyek” itulah yang digunakan agar ia dan keluarganya tetap bertahan hidup.

Selain usaha “proyek” di atas, Ujang pun mulai merintis usaha pengemasan kerupuk udang. Kerupuk Udang yang diproduksi oleh saudaranya di Karawang, dibungkus dan dijual ke warung-warung kecil. Walaupun keuntungannya tidak seberapa, namun usaha ini berjalan terus hingga sekarang. Salah satu kenikmatan Ujang dari bisnis baru ini adalah bagaimana ia setiap hari bisa bersilaturahmi dan saling berbagi dengan para pedagang dan pemilik warung kecil.

Setelah terbungkus malu karena “proyek” yang dijanjikan ke teman-temannya tidak berhasil. Ujang bertekad untuk melakukan islah dan menceritakan apa adanya kepada teman-teman “debitur”nya. Ia pun berjanji semua catatan hutang itu tidak akan dihapus dan akan membayarnya suatu ketika. Satu per satu teman-temannya didatangi dan mereka itu akhirnya mengerti dan tidak mengecap lagi sebagai seorang “penipu”.

Terakhir Ujang diberikan kepercayaan menggarap proyek perumahan di atas tanah keluarganya. Tanah yang luasnya tidak begitu besar itu dibagi ke dalam sembilan kavling ukuran 60 m2. Ujang pun tidak mau kegagalan sebelumnya terulang lagi. Ujang membuat proposal penawaran investasi yang lebih aman bagi dirinya dan investor. Dan proposal inilah juga yang mengantarkannya ke saya seperti yang diulas di awal tulisan.

Itulah sekelumit perjalanan seorang pengusaha yang beberapa kali jatuh, namun beberapa kali pula bangun dan bangkit. Kisah Ujang menjadi pelajaran bagi kita semua, bagaimana kerasnya menjalani hidup dan kegigihannya menjadi seorang pengusaha. Semoga Ujang kembali lagi sukses dalam usahanya dan bisa menyelesaikan semua permasalahan yang melilitnya. Amin.

Komentar
  1. dheeasy mengatakan:

    Karena mereka yang sukses adalah bukan yang tak pernah gagal, tapi yang selalu bangkit walaupun berulang kali gagal…

    _salam kenal pak :) _

  2. Erdien mengatakan:

    Subhanallah….!!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s