Pengalaman kuliner di Mekah (bagian 2)

Posted: 18 Januari 2011 in serambi
Tag:,

Di samping makanan, ada juga minuman yang sering kita jumpai di setiap kios penjual makanan yaitu teh susu. Dengan harga SR 2, saya bisa menikmati hangatnya teh celup dicampur susu yang lezat. Bagi yang tidak suka susu, untuk segelas teh manis kita hanya perlu mengeluarkan SR 1 saja.

Untuk jamaah haji Indonesia yang kangen makanan tanah air seperti baso, soto dsb bisa menemukan kios makanan khas Indonesia yang bertebaran di mana-mana terutama di sekitar Maktab Indonesia. Harga standar untuk semangkuk baso dan bihun dihargai SR 5. Rasanya sih tidak jauh beda dengan baso-baso di Tanah air, cuma tingkat kekenyalan baso agak kurang dan jarang yang disuguhkan dengan mi tapi diganti dengan bihun.

Apabila ingin mencicipi nasi dan lauk pauknya, kita bisa memilih berbagai makanan seperti halnya di rumah makan di Indonesia seperti makanan khas padang, sunda dsb. Untuk satu porsi makan nasi rames harganya mulai dari SR 7 sampai dengan SR 10.

Bagi yang ingin mendapatkan makanan Indonesia yang murah meriah sebenarnya tidak perlu jauh-jauh menjumpainya. Cukup keluar dari maktab, di pinggir-pinggir jalan sekitar Maktab banyak pedagang kaki lima yang berjualan nasi dan lauk pauk Indonesia.

Kebanyakan para pedagang ini adalah orang Indonesia yang bermukim di sana. Harga dari makanan ini cukup murah seperti satu kerat daging SR 1, telur SR 1, ayam SR 2, sayur kuah SR1 – SR2, nasi SR 2 dan lauk pauk lainnya yang kisaran harganya antara SR 1 sd SR 2.

Setiap pagi hari, biasanya jamaah haji banyak membeli makanan dari para pedagang pinggir jalan seperti ini karena masih segar dan belum banyak debu di jalan. Memang kita harus hati-hati dengan tingkat kebersihannya, karena sebagian pedagang tidak memperhatikan hal ini. Misalkan tidak menutup makanan yang disajikan dengan plastik, atau mengambil makanan langsung dengan tangan dsb. Tapi ada beberapa pedagang yang sudah mengerti sehingga para pembeli dibuat lebih nyaman.

Namun bagi yang ingin menghemat “living cost” yang kita terima, biasanya para jamaah haji Indonesia telah berbekal makanan dari Indonesia. Kalau untuk beras rata-rata para jamaah haji membawa 5 Kg. Persediaan ini cukup untuk satu orang jamaah selama tinggal di Mekah, karena untuk di Madinah kita disediakan katering.

Sedangkan untuk lauknya bisa bermacam-macam mulai dari abon, dendeng, sukri (suuk dan teri), bumbu pecel dsb. Kebanyakan ibu-ibu jamaah haji memasak di Maktab. Jangan khawatir dengan bahan-bahannya, karena di sekitar Maktab banyak kios-kios yang menjual kebutuhan sehari-hari. Sayuran dan buah-buahannya juga terlihat sangat segar bahkan kondisinya lebih bagus dibandingkan di pasar-pasar tradisional di tanah air.

Demikian sebagian pengalaman kuliner saya di Mekah. Bagi saya secara umum kondisi di Mekah terutama pada saat musim haji tidak terlalu jauh dari tanah air. Tidak sulit mencari makan yang enak dan murah baik makanan khas Indonesia maupun makanan dari segala penjuru dunia. Yang pasti disini, tidak ada kekhawatiran halal dan haram, Insya Allah semuanya halal.

Komentar
  1. Agus Siswoyo mengatakan:

    Jadi pengen segera kesana nih. Selama ini baru bisa nyicipin masakan Arab di kawasan Ampel doang. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s